Senin, 31 Maret 2008

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=195443


Kekayaan Sumber Daya Harus Menyejahterakan Rakyat


Senin, 24 Maret 2008
Sungguh melegakan bila benar lonjakan harga minyak bumi di pasar dunia tidak bakal membuat ekonomi nasional kolaps sebagaimana kata Wapres Jusuf Kalla saat berbicara dalam forum pertemuan saudagar Tatar Sunda di Bandung, kemarin.

Pernyataan itu melegakan karena hari-hari ini kita justru amat mencemaskan kemungkinan ekonomi nasional mengalami kolaps akibat harga minyak bumi terus-menerus naik hingga mencapai level yang tak pernah terbayangkan. Kita cemas karena boleh dikatakan kita trauma oleh krisis ekonomi-keuangan yang menerpa kita persis satu dasawarsa lalu.

Krisis ekonomi-keuangan itu memang sungguh terasa pahit dan menyengsarakan. Bukan saja ongkos pemulihan terbukti amat mahal, melainkan juga dampak krisis yang harus kita tanggung begitu berkepanjangan. Bahkan bagi kalangan tertentu, hingga sekarang dampak itu relatif masih terasa.

Jadi, amat beralasan masalah gejolak harga minyak bumi di pasar dunia belakangan ini serta-merta membuat kita miris dan cemas: bahwa ekonomi nasional berisiko kembali mengalami krisis dan kolaps. Terlebih lagi pemerintah sendiri justru terkesan gamang atau bahkan panik dalam menghadapi masalah terkait lonjakan harga minyak dunia ini. Paling tidak, kesan tersebut terlihat dari sikap labil pemerintah dalam menetapkan angka-angka asumsi ekonomi makro dalam APBN Perubahan 2008.

Tapi kesan itu coba diluruskan oleh Wapres Jusuf Kalla. Dia berupaya meyakinkan berbagai kalangan bahwa ekonomi nasional relatif aman. Meski harga minyak mentah di pasar dunia kini sudah melampaui 110 dolar AS per barel dan belum terlihat tanda-tanda segera meluncur turun kembali, ekonomi kita tak bakalan kolaps.

Benarkah? Kita sependapat dengan Wapres bahwa kita memiliki sumber energi lain yang relatif melimpah, khususnya gas alam dan batu bara. Sama seperti minyak bumi, harga gas alam dan batu bara di pasar dunia juga kini melangit.

Di luar potensi sumber daya energi, kita juga memiliki banyak sumber daya mineral lain yang juga tak kalah punya nilai jual tinggi. Ditambah sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan, seperti karet atau minyak sawit, kekayaan sumber daya alam ini memang bisa membuat fondasi ekonomi kita kokoh kuat dalam menghadapi dampak gejolak ekonomi global.

Dikaitkan dengan gejolak harga minyak mentah sekarang, itu berarti ekonomi kita memang tak perlu sampai tertohok, apalagi kolaps. Tekanan harga minyak bumi tak mesti menjadi faktor yang mengakibatkan ekonomi kita semaput. Bahkan, seharusnya, gejolak harga minyak bumi menjadi durian runtuh yang menyejahterakan kehidupan ekonomi kita sebagai bangsa.

Tetapi, faktanya, tidak seindah itu. Gejolak harga minyak bumi di pasar global terbukti tak menjadi durian runtuh bagi ekonomi nasional. Memang, tampaknya, gejolak itu tak bakal sampai membuat ekonomi kita kolaps. Namun gejolak tersebut tak urung merepotkan ekonomi kita. Sampai-sampai Menkeu sempat berkeluh-kesah bahwa APBN terancam menjadi tidak sehat karena gejolak harga minyak bumi membuat subsidi BBM melonjak hebat.

Begitu pula komoditas lain. Gejolak harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar internasional selama hampir setahun terakhir, misalnya, membuat rakyat kebanyakan menjerit didera kesengsaraan akibat harga minyak goreng melejit. Dalam konteks ini, berkah kenaikan harga CPO praktis hanya dinikmati kalangan petani sawit, produsen, serta eksportir CPO.

Jelas, kenyataan itu tak semestinya terjadi kalau saja kita pandai mengelola sumber daya alam. Ini tidak hanya merujuk pada aspek teknis penggalian dan pengolahan sumber daya menjadi komoditas bernilai secara ekonomi, melainkan terutama terkait aspek distribusi manfaat. Dalam kaitan ini, kita masih harus belajar sungguh-sungguh agar berbagai sumber daya yang kita miliki benar-benar menjadi faktor yang melahirkan kesejahteraan bagi kehidupan kita bersama sebagai bangsa. Artinya, berkah ekonomi berbagai sumber daya yang kita miliki benar-benar bisa dinikmati relatif merata oleh segenap anak bangsa.


Rabu, 02 Januari 2008


Karena Sering Bias, Masyarakat Malaysia Boikot Koran Utama


Kuala Lumpur (ANTARA News) - Masyarakat Malaysia yang disponsori oleh Gerakan Anti Salah Maklumat (Gasak) akan memboikot beli koran-koran utama yang dikelola kelompok bisnis media Utusan Malaysia dan News Strait Times, karena dinilai sering membuat berita yang tidak berimbang dan membohongi masyarakat.

"Kami mulai kampanye untuk tidak membeli koran-koran seperti Utusan Malaysia, Berita Harian, Metro, News Strait Times, Kamis 29 November 2007. Cara ini cukup efektif ketika dilaksanakan tahun 1999 ketika masyarakat melawan tindakan kerajaan Malaysia soal pencopotan Anwar Ibrahim," kata Ketua Gasak Khalid Jaafar, kepada ANTARA di Kuala Lumpur, Minggu.

Beberapa aktivis politik dan LSM yang hadir pada peluncuran kampanye boikot koran-koran Utusan Malaysia dan News Strait Times ialah Dr Xavier Jayakumar, Wakil Ketua Angkatan Muda Partai Keadilan Amiruddin Sari dan wakil Middle Eastern Graduate Centre Mustaqim.

Aksi boikot untuk tidak membeli koran targetnya adalah semua produk percetakan dua kelompok bisnis Utusan Malaysia dan NSTP karena kedua-duanya "dibekingi" oleh UMNO dan BN (Barisan Nasional).

"Kampanye ini dilakukan setelah mendapati koran-koran terbitan mereka menyebarkan maklumat yang salah, atau berat sebelah, terutamanya isu-isu politik," kata Khalid.

Tiga tuntutan utama Gasak ialah "Hentikan informasi bohong, "Berita yang seimbang bagi semua pihak", "Kebebasan editorial".

"Industri media seharusnya bebas dan para editor tidak seharusnya mendapat tekanan pemerintah atau pemilik perusahaan. Ia tidak boleh dipengaruhi oleh siapa pun kecuali para editor itu sendiri," ujar dia.

Salah satu contohnya, jumlah demonstran yang ikut kampanye BERSIH yang menuntut Pemilu Jurdil, Sabtu 10 November 2007 di Kuala Lumpur.

Koran seperti Utusan Malaysia dan Berita Harian memberitakan jumlah massanya hanya sekitar 4.000 orang, tapi Al-Jazeera, Reuters, AFP memberitakan sekitar 30.000, bahkan harian Harakah milik partai PAS memberitakan massanya 100.000.

Kasus demontrasi sekitar 5.000 pendukung Hindraf (Hindu Rights Action Force), Minggu 25 November 2007 di Kuala Lumpur. Koran-koran seperti Utusan Malaysia dan Berita Harian esoknya memberitakan keganasan para demonstran.

Padahal pers asing seperti Al-Jazeera, Reuters, Suara Keadilan dan Harakah memberitakan keganasan polisi Malaysia terhadap demonstran.

Gasak akan menemui Anwar Ibrahim, Presiden PAS (Partai Islam Malaysia), Abdul Hadi Awang dan Ketua Umum DAP (Democratic Action Party) Lim Kit Siang bagi mendapat dukungan untuk mensukseskan kampanye ini.

Gasak pernah melakukan tindakan serupa tahun 1999 yang dinilai cukup efektif. Bahkan cukup banyak masyarakat Malaysia yang tidak mau beli koran-koran utama hingga saat ini, dan mencari informasi melalui internet termasuk Blog.

Oleh karena itu, kerajaan Malaysia sempat dibuat "pusing" dan "gerah" dengan informasi para blogger. Pengelola website Malaysia Today Raja Petra Kamarudin saat ini diseret ke pengadilan untuk membuat takut para pengelola Blog.

Tidak mau kalah, Menteri Penerangan Malaysia Zainuddin Maidin pada hari yang sama mengatakan akan memasang papan pengumuman di semua tempat umum untuk menempel koran-koran agar masyarakat dapat membaca sambil menunggu.

"Mulai awal tahun depan, papan yang berisi koran-koran ini akan dipasang di berbagai tempat umum," katanya.

Seorang pengamat media massa Malaysia Nasrullah Ali Fauzi MA mengatakan, langkah Gasak dan Menpen Zainuddin Maidin ini tidak terlepas dari pemanasan menjelang Pemilu yang sebentar lagi.

"Perang opini publik merupakan strategi dalam upaya memenangi Pemilu," katanya.

(*)
Copyright © 2007 ANTARA
http://antara.co.id/arc/2007/12/2/karena-sering-bias-masyarakat-malaysia-boikot-koran-utama/

Rabu, 12 Desember 2007

Pembatasan Premium Ciptakan Moral Hazard


TEMPO Interaktif, Jakarta:Rencana pemerintah mengalihkan penggunaan bahan bakar minyak jenis premium oktan 88 ke oktan 90 dinilai hanya akan menciptakan moral hazard (penyimpangan yang menimbulkan kerugian lebih besar). Hal tersebut terkait masih lemahnya pengawasan yang dilakukan aparat pemerintah, khususnya Badan Pengatur Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

Pengamat perminyakan Kurtubi menyatakan, rencana pengalihan tersebut hanya akan akan menciptakan moral hazard. Sebab, dalam rencana tersebut pemerintah akan menetapkan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mana saja yang boleh menjual premium. "Bahkal banyak pengemudi kendaraan yang mengisi premium dan menjual kembali kepada konsumen untuk mencari keuntungan, siapa yang bisa mengawasi," ujarnya kepada Tempo, Kamis (6/12).


Menurut dia, sampai sekarang pemerintah, khususnya BPH Migas tak mampu mengawasi penyalahgunaan bahan bakar minyak yang terjadi di masyarakat. Sesuai Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, BPH Migas bertanggungjawab mengawasai penyaluran dan pendistribusian bahan bakar minyak sampai ke konsumen di seluruh Indonesia.

Kurtubi mengungkapkan, selain moral hazard, pemotongan pasokan premium dipastikan akan menciptakan antrian kendaraan pada SBPU yang menjual premium. Dia mencontohkan, tentang program konversi minyak tanah elpiji beberapa waktu lalu. "Kisruh dimana-mana dan Pertamina terpaksa memasok kembali minyak tanah ke masyarakat," katanya.

Untuk mengurangi subsidi, kata dia, pemerintah bisa melakukan kebijakan kenaikan harga bahan bakar secara berkala. "Caranya dengan menaikan harga Rp 100 per liter setiap bulan," ujarnya. Dengan cara ini beban yang ditanggung konsumen tak terlalu berat.

Anggota Komite BPH Migas Adi Subagyo mengatakan, pengawasan penjatahan premiun akan dilakukan dengan kartu pintar (smart card) dan ditempel pada setiap kendaraan. "Premium hanya diberikan kepada angkutan umum dan kendaraan roda dua," katanya.

BPH Migas, kata dia, memiliki keterbatasan dalam melakukan pengawasan jika terjadi moral hazard. "Anggota kami hanya 20 orang," ujarnya. Adi tak menampik terjadinya penyimpangan dalam program pembatasan premium di masyarakat.

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Maxensius Tri Sambodo mengatakan, dampak kenaikan harga minyak pada 2005 terjadi penurunan kesejahteraan masyarakat. “Ditandai dengan turunnya porsi konsumsi beras dan lauk pauk,” ujarnya kepada Tempo.

Sektor transportasi mengalami dampak paling parah dengan penurunan jumlah penumpang dan armada. "Sedangkan nelayan mengalami penurunan tingkat kesejahteraan akibat kenaikan biaya melalut," katanya.

Menurut Tri Sambodo, jika rencana pengurangan premium dilaksanan dipastikan akan menimbulkan dampak pada inflasi. "konsumsi masyarakat juga bakal turun," katanya

ALI NUR YASIN
http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/12/07/brk,20071207-113068,id.html

Polisi Selidiki Transparansi International Indonesia


TEMPO Interaktif, Jakarta:Polisi menyelidiki lembaga Transparancy International Indonesia karena telah menyatakan kepolisian sebagai lembaga terkorup. Polisi telah menyebar para intel karena mencurigai ada pihak-pihak di balik lembaga itu yang ingin mendiskreditkan kepolisian.

"Intel kami sudah mulai disebar, kami mulai tanya siapa mereka. Jangan-jangan mereka ekstrimis, didanai oleh koruptor," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian Inspektur Jenderal Sisno Adiwinoto di Markas Besar Kepolisian, Senin (10/12).

Sisno juga mencurigai TII bagian dari spionase dan diintervensi oleh pihak asing. Ia bahkan mengatakan bisa jadi lembaga pimpinan Todung Mulya Lubis itu berkepentingan politik untuk pemilihan umum 2009. Mereka, kata dia, lantas berusaha menggulirkan isu yang mendiskreditkan kepolisian.

Kecurigaan itu menurutnya timbul karena TII telah tiga kali melakukan penelitian yang menyatakan kepolisian sebagai lembaga terkorup. Padahal, katanya, kepolisian telah melakukan perbaikan-perbaikan.

"Sebenarnya itu sekarang seperti difitnah, aparat tidak mau memperbaiki diri padahal kita sudah melakukan perbaikan diri," katanya.

Karena itu polisi melakukan penyelidikan terhadap orang-orang di lembaga itu. Polisi juga memikirkan untuk melaporkan mereka karena telah mencemarkan nama baik kepolisian.

"Kalau nanti memenuhi mungkin bisa lebih dari itu. Kalau ternyata menjadi bagian dari infiltrasi, spionase itu bisa lain lagi ceritanya," katanya.

Sebelumnya TII melakukan suvei terhadap 1.010 responden di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Hasilnya, dari indeks maksimal 5, polisi mendapat indeks 4,2. Indeks itu lebih tinggi dibanding DPR dan lembaga peradilan yang mencapai 4,1.

Mantan Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Inspektur Jenderal Purnawirawan Farouk Muhammad mengatakan tindakan korupsi itu akibat kebijakan antijudi Kepala Kepolisian Jenderal Sutanto. Kebijakan itu menurutnya mengurangi kas nonformal polisi di tingkat daerah.

Sisno menilai penelitian itu sebagai sampah karena tidak dapat dipertanggungjawabkan.

"Kritik dan saran itu jadi bahan acuan, tapi kalau masukan dan saran itu punyanilai dan bobot. Ini seperti masukan sampah, karena dari proses mereka melaksanakan penelitian sulit untuk dipertanggungjawabkan," katanya.

Sisno mempertanyakan pernyataan Farouk tersebut. Dia mengatakan pernyataan itu memperparah kondisi apalagi menurutnya Farouk adalah polisi yang parah.

"Dia kan tidak pernah jadi polisi lapangan sejak kecil. Masak bilang begitu, ngarang aja. Dia tidak pernah mencerminkan seorang polisi," katanya.

Desy Pakpahan
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/12/10/brk,20071210-113251,id.html



Jumat, 07 Desember 2007

Jangan Abaikan 'Sinyal' Tubuh



Anda pasti pernah mengalami kedutan, cegukan atau kuping berdenging. Sayangnya, sebagian besar dari Anda seringkali mengabaikan tanda-tanda tubuh tersebut. Padahal menurut dr. Karen Wolfe, penulis buku Create The Body Your Soul Desires, mengatakan bahwa tubuh yang mengalami kedutan atau cegukan bisa menjadi pertanda bahwa tubuh Anda sedang mengalami gangguan ringan.


Namun meskipun gangguan tersebut tergolong ringan, tidak berarti Anda harus mengabaikannya. Sebab, dengan memahami 'sinyal' yang diberikan oleh tubuh diharapkan Anda dapat lebih peduli pada tubuh sehingga tubuh menjadi lebih sehat.


Kedutan pada kelopak mata
Gerakan tak sadar yang diberikan oleh bagian tubuh Anda ini menandakan bahwa tubuh Anda kurang beristirahat dan tidur. Bahka para ahli kesehatan sepakat, 99% kekejangan pada mata disebabkan karena tubuh Anda didera stres dan lelah yang amat sangat. Tak ada cara lain yang bisa Anda lakukan untuk menghentikan kedutan pada mata ini selain membiarkan tubuh dan mata Anda untuk beristirahat. Mengompres mata Anda dengan air hangat untuk beberapa saat juga sangat membantu.

Menguap terus
Menguap tidak selalu berarti mengantuk. Menguap, juga merupakan sinyal dari alam bawah sadar Anda bahwa tubuh Anda kurang bergerak. Misalnya, Anda terlalu serius bekerja sehingga menghabiskan lebih dari lima jam duduk di depan koputer. Terlalu banyak menguap bisa juga berarti bahwa oksigen di dalam otak Anda sedang menurun jumlahnya. Hati-hati, kondisi ini bisa menurunkan tingkat kewaspadaan serta kosentrasi Anda terhadap pekerjaan dan lingkungan di sekitar Anda.


Cegukan
Anda cegukan padahal Anda tidak sedang makan apapun. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa tubuh Anda sedang mengalami stres. Hal ini karena cegukan melepaskan hormon stres ke dalam aliran darah, kemudian merangsang serat saraf secara berlebihan. Akibatnya, terjadi kontraksi otot tak sadar yang terletak di dekat pita suara sehingga menimbulkan bunyi. Cara termudah untuk meredakan cegukan Anda adalah dengan cara menelan sedikit gula pasir. Butiran gula pasir akan menstimulir ujung saraf di balik kerongkongan sehingga menghambat impuls saraf lainnya, sehingga cegukan pun reda.

Kaki kram
Apakah Anda sering mengalami kaki kram secara intens setiap malam? Kram kaki merupakan sinyal tubuh yang mengisyaratkan bahwa tubuh Anda sedang mengalami dehidrasi, kekurangan kalsium dan magnesium. Untuk mengatasinya adalah minumlah air putih lebih banyak dari biasanya. Susu kalsium juga sangat disarankan.

Senin, 03 Desember 2007

Hari ini ketika audit department lain saya berjalan melewati bagian produksi di kantor terlihat banyak pekerja pabrik yang anak-anak baru lulus smu sedang bekerja dengan riang dan gembira, tapi kegembiraan mereka adalah senyum kegetiran dalam menghadapi hidup, sebagai buruh kontrak dan buruh outsourcing. ...

Perusahaan saya, seperti mungkin banyak perusahaan lainnya saat ini banyak memperkerjakan karyawan kontrak dan karyawan outsourcing, karena outsourcing adalah suatu hal yang wajar dan sah dari segi undang-undang 13 th 2003.

tetapi dibalik itu, jika kita sebagai tenaga kerja outsourcing, kita tidak terdapat kepastian kerja dari perusahaan yang sedang bekerja, kapan pun kita dapat diganti kalau perusahaan tidak puas atau pun ada faktor like dan dislike. bagai mana dengan masa depan pekerjaa outsourcing. ..

Pernah terpikir jika seseorang pegawai atau karyawan menjadi karyawan kontrak atau pun outsourcing bagaimana hidup mereka, masa depan mereka, banyak perusahaan khususnya manufaktur mempekerjakan tenaga muda. dan mereka rata-rata hanya berpendidikan SMU. apakah ada perusahaan yang mau mengontrak mereka pada usia 30-50 tahun....? (Semoga masih ada), kalau tidak, bangsa indonesia siap menerima ledakan pengangguran yang lebih besar

Dari sisi management, perusahaan akan lebih senang mempekerjaan karyawan outsourcing untuk cost down (penekanan biaya), serta efesiensi, Untuk itu diperlukan suatu perubahan struktural dalam pengelolaan usaha dengan memperkecil rentang kendali manajemen, dengan memangkas sedemikian rupa sehingga dapat menjadi lebih efektif, efisien dan produktif.

menurut pemkiran pengusaha yang pernah saya baca "selama ini, buruh Indonesia selalu menuntut gaji yang lebih tinggi tanpa meningkatkan produktivitasnya. Sedangkan para pengusaha akan kesulitan melakukan pemutusan hubungan kerja, karena mereka harus membayar banyak kewajiban, seperti uang pesangon." itulah alasan suburnya bisnis penyedian jasa tenaga outsourcing

pekerjaan disub-kontrakkan (outsourcing) melahirkan persoalan, pada kenyataan sehari-hari outsourcing selama ini diakui lebih banyak merugikan pekerja/buruh, karena hubungan kerja selalu dalam bentuk tidak tetap/kontrak (PKWT), upah lebih rendah, jaminan sosial kalaupun ada hanya sebatas minimal, tidak adanya job security serta tidak adanya jaminan pengembangan karir dan lain-lain sehingga memang benar kalau dalam keadaan seperti itu dikatakan praktek outsourcing akan menyengsarakan pekerja/buruh dan membuat kaburnya hubungan industrial .

pada UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, tidak ada satupun peraturan perundang-undangan dibidang ketengakerjaan yang mengatur perlindungan terhadap pekerja/buruh dalam melaksanakan outsourcing. Kalaupun ada, barang kali Permen Tenaga Kerja No. 2 Tahun 1993 tentang kesempatan kerja waktu tertentu atau (KKWT), yang hanya merupakan salah satu aspek dari ousourcing.


karena rata-rata pekerjaa outsourcing, satpam, cleaning service, operator pabrik da lainya adalah yang berpendidikan rendah, inilah relasi dari kebijakan pemerintah tentang pendidikan, dimana pemerintah masih belum peduli untuk peningkatan SDM indonesia, yang berakhir pada rendahnya tingkat pendidikan rakyat sehingga banyak rakyat tidak bisa mendapat penghidupan yang layak.

Buat Sahabat yang saat ini terikat kontrak Outsource Janganberkecil hati dan khawatir. Ingat masa depan tetap ada ditangan dan hanya diri sendiri dan Tuhanlah yang akan merubah hidup. Kalau kita baru sebatas kerja kontrak ya terima dulu, sambil nimba ilmu, nambah ketrampilan, buat nambah "amunisi" dalam persaingan dunia kerja, Kemudian cari -cari peluang yang sesuai dengan keahlian kita.



Dalam perenunganku, Tidak setuju dengan sistem outsourcing. ..
Depok 2 Desember 2007
Erwin Arianto


Radiasi Wi-Fi Bikin Anak Jadi Autis?
Fino Yurio Kristo - detikinet

London - Manfaat Wi-Fi (wireless fidelity) memang besar terutama untuk

lalu lintas data. Namun bagaimana jika gara-gara Wi-Fi, penyakit autis
yang menyerang otak bisa melanda?

Sinyal Wi-Fi disinyalir bisa mempercepat perkembangan penyakit autis
pada anak-anak. Demikian diungkapkan dalam sebuah studi yang dibesut
oleh lembaga Australasian Journal of Clinical Enviromental Medicine.
Studi ini mengungkapkan hubungan antara teknologi wireless dengan
autisme. Mereka melakukannya dengan mengadakan berbagai tes terhadap
anak-anak autis pada tahun 2005 dan 2006.

"Radiasi elektromagnetis dari Wi-Fi kelihatannya menjebak unsur
tertentu dalam otak dan menyebabkan gejala autisme pada anak makin
meningkat," ungkap Dr. George Carlo, salah satu pembesut studi ini
seperti dikutip detikINET dari EeTimes, Kamis (29/11/2007).

Sebelumnya, Dr George Carlo juga pernah meneliti bahwa penggunaan
ponsel juga berpengaruh terhadap meningkatnya angka anak yang menderita
autis. Gejala ini disebutnya mewabah di seluruh dunia. ( fyk / dwn )


Categories

Blog Archive

Sembako Hari ini

Sembako hari ini
Beras 5.500
Telur ayam ras 13.500
Minyak goreng sawit 12.000
Gula pasir 6.600
Tepung terigu 7.700
Cabe merah keriting 20.000
Cabe merah biasa 18.500
Bawang merah 16.500
SKM cap bendera 7.800
Daging sapi 55.500
Kacang tanah 12.500

 

Sumber: Poskota

Blog sahabat





Pages

About Me

Foto saya
Penulis tuk diri sendiri, Internal Audit untuk Sebuah Perusahaan, Pencinta Puisi, Cerpen, Seorang Hamba yang berusaha, Menjadi Ayah yang baik untuk Quineisha & Qhaira, menjadi Insan Taqwa

Pengikut

Sample Text

IP

Unordered List

Popular Posts

Recent Posts



Website Hit Counter
Free Hit Counters

Text Widget