TBC Kelenjar Leher
Penyakit
Tuberculosa limfadenitis adalah penyakit yang disebabkan oleh
Mycobacterium Tuberculosa. Sasaran utama penyakit ini adalah paru-paru,
namun apabila daya tahan kita kuat, kuman ini tak dapat menginfeksi paru
tetapi tertahan pada tonsil (amandel) dan dapat menyebar kemana saja
seperti tulang, usus, ginjal dan berbagai organ. Yang tersering terkena
penyebaran Tuberculosa di tubuh kita terutama kelenjar getah bening di
leher.
Salah satu
kelenjar getah bening bisa ditemukan pada beberapa bagian tubuh yang
berbeda seperti leher, ketiak, lutut, sela paha serta pada bagian perut.
Bila terjadi infeksi pada tubuh maka kelenjar itu akan membengkak. Jika
dilihat dengan gejalanya TBC kelenjar diawali dengan demam yang
berkepanjangan, batuk lama, nafsu makan hilang dan benjolan di sekitar
leher dan lutut atau ketiak. Hanya saja, paling banyak ditemukan adalah
adanya benjolan di sekitar leher. Gejalanya memang tidak terlalu dapat
dirasakan oleh penderita. Dan akan diketahui setelah benjolan membengkak
bahkan menyebar ke bagian lainnya. TBC kelenjar biasanya disebabkan
oleh sistem kekebalan tubuh yang lemah, Mycobacterium tuberculosis yang
tumbuh agresif, lingkungan yang kotor juga dapat menyebabkan TBC
kelenjar karena penularan dan penyebaran bakteri menjadi lebih besar.
Kali ini saya mau sekedar sharing soal penyakit
tuberculosis yang menyerang kelenjar leher.
Banyak yang tidak tahu kalau TB bisa menyerang organ lain selain
paru-paru. Padahal bakteri TB bisa menyerang organ lain seperti mata,
kulit, kelenjar, dsb. Meski tidak menular seperti TB paru-paru pada
umumnya, namun TB yang menyerang organ lain juga berbahaya. Indonesia
masuk sebagai negara nomor 4 dengan pengidap TB terbanyak di dunia. Dan
kita tahu bahwa TB adalah salah satu penyakit yang kasus kematiannya
tinggi. Padahal TB bisa disembuhkan dengan penaganan yang tepat.
Nah, saya sebetulnya mau sharing pengalaman pribadi soal bakteri TB
ini sendiri. Sudah hampir dua bulan ini saya sering sakit. Awalnya saya
ke dokter karena vertigo perifer yang sempat bikin penglihatan saya
‘hilang’ dua hari (gara-gara sembarangan minum obat) terus secara nggak
sengaja saya malah nemu ada benjolan di leher kiri. Awalnya saya kira
itu amandel. Jadi saya
treatment pakai puasa minum es dan
perbanyak konsumsi vitamin C. Apalagi saya mendadak jadi sering kena
demam dan gampang sakit, makanya saya pikir itu efek samping vertigo
saya. Masa penyembuhan. Meski benjolan itu belum hilang selama 2 minggu,
saya anggapnya biasa aja. Dulu, wakttu SMA, saya juga punya benjolan di
belakang telinga sebesar biji kacang dan sering membesar kalau saya
lagi atau mau sakit. Dan kebetulan dokter bilang benjolan itu nggak
perlu dibedah, karena cuma dikasih obat dan akhirnya kempes sendiri.
Jadi saya anggap benjolan di leher ini sama kayak benjolan di belakang
telinga.
Minggu ke-3, saya mulai
aware. Saya
googling soal benjolan di leher dan salah satunya saya nemu
karena
di sana ada beberapa pembahasan soal pembengkakan kelenjar leher. Jadi,
saya langsung ke rumah sakit terdekat dan diperiksa dokter umum. Waktu
itu diagnosa awalnya adalah tumor T_______T tapi karena saya baca
web resmi CDC soal TB ),
saya minta periksa darah. Hasilnya memang dicurigai
saya mengidap TB, tapi belum bisa dipastikan. Jadi, akhirnya saya minta
janjian sama dokter spesialis penyakit dalam di RS itu.
Dari dokter , dokter spesialis penyakit dalam yang menangani
saya, saya dianjurkan biopsi. Tapi saya takut T_____T akhirnya beliau
menyarankan ronsen leher. Nah, dari hasil rosen leher (
sinistra colli)
ini pun sebetulnya belum bisa dipastikan pembengkakan kelenjar di leher
saya ini karena apa. Hanya untuk memastikan kalau itu adalah jaringan
lunak (bukan tulang atau semacamnya). Kemudian saya disarankan USG.
Berhubung saya sebetulnya udah penasaran (dan capek) dengan serangkaian
tes-tes yang belum bisa memastikan apa penyakit saya (sebulan, loh, saya
bolak-balik RS terus), akhirnya saya bilang ke dokter Erlina kalau saya
mau biopsi. Walau masih takut, tapi setelah tanya sana-sini sama yang
udah lebih berpengalaman, saya beranikan diri juga ke lab. Dan betapa
saya bersyukur, hasil tes menunjukkan bahwa tidak ditemukan sel ganas di
kelenjar leher saya yang bengkak (soalnya saya orangnya emang agak
paranoid, gara-gara terlalu banyak
googling juga sih, jadi nemu yang aneh-aneh; sempat takut itu kanker :’( )
Nah, beberapa hal yang perlu diketahui berkaitan dengan TB kelenjar (menurut pengalaman pribadi saya):
- Gejala-gejalanya seperti; batuk yang tak sembuh-sembuh. Biasanya
disertai keluarnya dahak lebih dari sebulan. Nafsu makan turun drastis.
Sering demam tinggi dan kalau kecapekan langsung demam. Berkeringat di
malam hari. Berat badan turun. Daya tahan tubuh menurun dan badan lemah.
- Jangan sepelekan benjolan-benjolan di daerah leher, ketiak, dan pangkal paha.
- Biopsi itu nggak sakit ^^ (yey, akhirnya saya bisa nulis ini
hahahaa). Yah, bagi saya yang takut sama jarum suntik, jangankan biopsi,
cek darah aja bikin saya mimpi buruk. Tapi, emang nggak seperti yang
dibayangkan. Awalnya saya kira perlu pembedahan. Tapi ternyata saya cuma
biopsi kecil, AJH (aspirasi jarum halus) namanya. Jadi, rasanya cuma
kayak disuntik (which is actually, pretty scary for me—saya betulan
takut jarum, oke). Tapi, betulan, deh. Nggak perlu takut karena
prosesnya pun sebentar, palingan 15 menit. And considering that words
come from me, it is not THAT bad. Kenapa perlu biopsi? Karena hanya
dengan biopsi bisa diketahui stadium dan tingkat pertumbuhan selnya.
- SAY NO TO DIET. Ini maksudnya diet untuk ngurangin berat badan yang
sembarangan dilakukan. Misalnya, ngurangin porsi makan biar nggak nambah
berat badan. Setelah semuanya ini, saya jadi sadar kalau berat badan
juga memengaruhi daya tahan tubuh. Bayangkan, tahun lalu saya 52kg
(dan itu BB normal, karena tinggi saya 160cm) dan sekarang setelah
sakit, BB saya terus turun. Dan itu bikin vertigo saya jadi sering
kambuh. Kalau mau sehat, sih, menurut saya yang paling bener ya puasa
Senin-Kamis dan hindari fast food. Banyakin makan sayur dan buah.
- Sekiranya berada di tempat yang memungkinkan penularan penyakit
semacam flu itu tinggi, pakailah masker. Ini bukan apa-apa, sebelum
sering batuk-batuk itu saya sempat ke rumah sakit besar untuk ronsen
dada. Otomatis saya harus menunggu di ruang tunggu yang ramai sebelum
nama saya dipanggil. Nggak sampai sebulan setelah itu, saya jadi malah
sering batuk, nyaris setiap hari. Bukannya saya mau suuzon sama
seseorang yang ada di situ, tapi mungkin aja ada penderita TB paru yang
mau ronsen juga terus nunggu di ruangan itu. Lalu, kebetulan daya tahan
tubuh saya nggak bagus, makanya bakterinya bisa menyerang badan saya.
Nah, itu jadi pelajaran aja supaya lebih bisa jaga diri. Salah satunya
dengan masker. Dan hand sanitizer untuk keadaan darurat (kemudian berubah jadi clean-freak hahaha).
- TB kelenjar tidak menular. Beda dengan TB paru-paru. Iya, jangan
khawatir dekat-dekat saya (atau pengidap TB kelenjar lainnya) karena
saya udah konfirmasi ke dokter saya bahwa yang menular hanya TB
paru-paru.
- Pengobatan TB kelenjar biasanya lebih lama daripada TB paru. Kalau
TB paru dengar-dengar 6 bulan, TB kelenjar 8 bulan. Tapi tergantung daya
tahan tubuh juga. Kalau bagus, mungkin bisa lebih cepat.
- Pengobatan alternatif boleh dilakukan, ASALKAN pengobatan dari
dokter juga terus lanjut. Terus terang, saya juga pakai pengobatan
alternatif supaya mempercepat pemulihan dan pengembalian daya tahan
tubuh. Tapi kalau udah berhubungan dengan bakteri TB, jangan macam-macam
deh. Jangan percaya sepenuhnya pada pengobatan alternatif karena kita
nggak bisa tahu pasti kalau bakteri ini udah hilang dari badan kita apa
belum. Bisa aja udah ngerasa baikan, tapi sebetulnya bakterinya masih
ada dan nunggu dia membelah diri aja deh jadi kambuh lagi. Oh, iya,
kalau dikasih antibiotik (you will, you see, now I’m familiar with
anttibiotics) ya harus dihabiskan. Meski aduh, duh, duh, maleees banget
minum obat terus, tapi antibiotik harus habis dan diminum sesuai resep.
Titik.
- Minta dukungan teman atau keluarga itu membantu banget. Terutama
kalau ngekos kayak saya. Tentu aja saya butuh teman entah kadang buat
nganterin ke RS atau lab, bahkan sekedar hang out dan ketawa-ketiwi
bareng mereka itu bisa bikin saya merasa jauuuuh lebih baik.
- Cari kegiatan, jangan melulu bedrest. Karena hal yang
paling penting dari penyakit ini adalah… kita nggak boleh ngerasa sakit.
Okelah, kalau demamnya kumat, memang harus istirahat. Tapi di lain
waktu kalau udah baikan, sebetulnya lebih baik kalau cari kegiatan di
luar. Atau mungkin masak, berberes kamar, dll yang bikin badan aktif
bergerak. Sejujurnya, saya udah nggak kuat kalau aktivitas fisiknya
tinggi karena lebih cepat capek, tapi sebisa mungkin kalau ada
kesempatan, selalu bergerak.
Kulit
manggis memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi, antioksidan
ini mampu menangkal radikal bebas dan meningkatkan sistem kekebalan,
sehigga sangat tepat bila dikonsumsi oleh penderita TBC kelenjar
memperbaiki sistem imun. Dalam uji invitro, periset Gifu International
Institute of Biotechnology itu membuktikan xanthone efektif mengatasi
Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab tuberculosis (TBC). -B
MANGOSTIN dan garcinone pada manggis mampu menghambat pertumbuhan
bakteri mycobacterium tuberculosis yang dikenal sebagai penyebab
penyakit paru-paru atau tuberkolosis (TBC).
Selain
itu, daun sirsak juga memiliki kandungan yang luar biasa yakni mampu
menghambat pertumbuhan bakteri, menghambat perkembangan virus,
menghambat perkembangan parasit, menghambat pertumbuhan tumor,
merileksasi otot, anti kejang, meredakan nyeri, menekan peradangan,
menghambat mutasi gen, menurunkan kadar gula darah, menurunkan demam,
menurunkan tekanan darah tinggi, menguatkan saraf, menyehatkan jantung,
meningkatkan produksi asi pada itu hamil, melebarkan pembuluh darah,
membunuh cacing parasait, mengurangi stres, menguatkan pencernaan dan
meningkatkan nafsu makan. Yang paling luar biasa adalah daun sirsak
memiliki zat antikanker ( acetogenins) yang kekuatannya 10.000 kali
lipat lebih kuat dibandingkan dengan kemoterapi.