Teller Dan Penerimaan Transaksi Pada Bank CIMB Niaga
A. Pendahuluan
Kasir atau Teller pada sebuah bank adalah pintu gerbang pertama dan sangat penting dalam melakukan transaksi dengan nasabah, dengan kata lain semua transaksi Financial, baik yang bersifat tunai Contoh setoran tabungan, penarikan tabungan, Dll atau transaksi nontunai seperti Overbooking, RTGS, dll pada sebuah bank harus melalui media Kasir atau Teller.
Dalam Hal ini Kasir pada bank memiliki resiko yang besar dan berpengaruh pada operasional suatu bank, dan juga secara tidak langsung kasir pada suatu bank Khususnya pada Bank CIMB Niaga, teller merupakan Citra dari sebuah perusahaan dengan pengertian bahwa Nasabah akan berhubungan dengan bank melalui kasir, jika pelayanan kasir tidak prima dan memadai atau mengakibatkan kekecewaan dalam bentuk apapun kepada nasabah seperti Antri yang panjang, Pelayanan yang kurang ramah, Proses Transaksi yang tidak sederhana, Kesalahan dalam transaksi, atau pun kecurangan yang dilakukan oleh kasir, dapat menyebabkan Nasabah kehilangan Kepercayaan pada bank.
Jika Bank Telah kehilangan kepercayaan dari nasabah, maka akan dapat diperkirakan bank tersebut tidak akan bisa bertahan dalam kelangsungan usaha, karena Modal awal pada suatu bank adalah Sebuah "kepercayaan", oleh karena itu bank harus menjaga kualitas pelayanan pada transaksi teller dengan menerapkan internal kontrol dan prosedur pelayanan yang harus dijalankan oleh kasir atau teller yang ada pada Bank.
Pada On Job Training, Audit Development Program Batch I pada cabang Graha Niaga sudirman (Niaga Tower) maka kami berkesempatan melihat dan mengamati secara langsung aktivitas Teller atau Kasir Dalam melakukan aktivitas atau transaksi yang ada di kasir, dan juga melihat adanya beberapa aktivitas yang mengandung unsur resiko, dan hal tersebut akan dipaparkan pada narasi deskripsi pada makalah ini.
B. Aktivitas Transaksi Yang Ada Pada Teller
Hasil dari Observasi dalam On the Job Training pada cabang Niaga Tower Sudirman aktivitas keseharian kasir adalah;
1. Pada Awal Pagi Kasir atau Teller melakukan morning Brieefing
2. Head Teller dan Officer Pergi Ke Main Vault atau khazanah untuk mengambil Sejumlah uang sesuai Limit untuk Operasional, dan mengambil Brankas masing-masing kasir.
3. Kasir Atau Teller Mencetak Local dan Host Teller
4. Head Teller melakukan pencocokan Saldo Cash In Hand dan Saldo SL pag hari
5. Kasir melakukan Transaksi melayani Nasabah baik berupa transaksi tunai dan Transaksi non tunai .
6. Kasir dan Head Teller secara dual custody melakukan Pengisian Uang ATM.
7. Kasir Juga menginput dan menerima transaksi Pick Up Service yang diterima dari Vendor (CISCO, Securicor, TAG, Dll.)
8. Kasir melakukan Balancing untuk menghitung kesesuaian fisik dan catatan biasanya dilakukan sebelum makan siang
9. Setiap Teller memiliki limit Yang terdiri dari limit transaksi tunai dan Limit transaksi non tunai
10. Pada Akhir hari Teller bersama dengan Officer melakukan Cash Count atas transaksi hari ini.
11. Teller Mencocokkan Saldo Host Teller dan Local teller
12. Officer mencocokkan dan memvalidasi atas Tiket yang ada untuk mencegah terjadinya kesalahan dan mencocokan dengan Sub Ledger dan Saldo uang untuk transaksi tunai
13. Setelah selesai makan teller akan menutup Brangkas sesuai dengan saldo yang ada, dan Ketika semua brankas kas kecil sudah selesai dihitung maka Akan di simpan pada main Vault
14. Oficer dan Teller ke main vault dengan dual costudy dengan mengisi log book yang ada.
C. Resiko Dan Penerapan Internal Control Pada Teller
Mengingat tugas dan aktivitas transaksi pada Teller yang merupakan ujung tombak atau barisan utama dalam Saving atau penghimpunan dana dari masyarakat yang merupakan modal bagi bank untuk dapat menyalurkan kan kembali dalam bentuk kredit, serta berhubngan langsung dalam penerimaan dan Pengeluaran Kas yang sangat Liquid sebagai alat pembayaran, yang berpotensi adanya penyimpangan atau resiko yang sangat besar, maka Pada teller perlu adanya manajemen resiko yang tepat dengan menerapkan Internal Control yang benar untuk mencegah atau meminimalkan resiko yang ada.
Beberapa contoh resiko, yang terdapat dalam aktivitas keseharian transaksi pada kasir adalah sebagai berikut:
1. Ketidak sesuaian antara tiket dan input transaksi pada system pembukuan. Akan menyebabkan Nasabah complain dan terjadi selisih pada pembukuan yang ada.
2. Salah melakukan pendebetan atau pengkreditan Rekening nasabah (baik Nominal atau nomer rekening)
3. Salah Validasi oleh kasir (memungkinkan terjadinya penggunaan uang oleh pihak yang tidak berwenang.
4. Transaksi Faks dan Atas Nama nasabah fiktif, akan menyebabkan reputasi risk dan complain dari nasabah
5. Salah menerapkan kurs dalam bertransaksi Bank Notes, maka kan menyebabkan selisih pada kas.
6. Sistem Approval tanpa melihat transaksi, akan menyebabkan terjadi transaksi bermasalah
7. Pengisian ATM dan Main Vault tidak dual Costudy, dapat menyebakan kecurangan oleh pihak Internal
8. Limit uang pada Main Vault melebihi limit asuransi dan saldo uang tidak di laporkan pada pihak asuransi, hal ini menyebabkan resiko tidak terasuransinya uang yang ada, jika terjadi musibah maka akan menimbulkan lost atau kerugian bagi bank.
9. Adanya resiko Kerampokan atau Pencurian.
10. Terlambat dalam melakukan penginputan dan proses RTGS atau Transfer
11. Adanya resiko Money Laundry dan salah pengisian informasi nasabah untuk keperluan Bank atau Pihak Nasabah.
12. Dll
Beberapa contoh penerpan Internal Control yang ada pada teller
1. Penerapan Sistem Approval atau dual control
2. Adanya Sistem Alarm,Pintu yang self locking door Dan uang pengaman jika terjadi kerampokan
3. Adanya Log Book dalam pengisian ATM dan Masuk Ke Main Vault
4. Kas Count, pengecekan kelengkapan warkat dan pencocokan Local & host Teller untuk memastikan ketepatan penginputan dan Kesesuaian pembukuan.
5. Penetapan Password dan Finger Print untuk membuka system Mozaik untuk mencegah kecurangan pembukuan.
6. Identifikasi penerima dan verifikasi tandai tangan yang tepat sesuai ketentuan.
7. Dual Costudy jika mengisi ATM dan Masuk Ke Main Vault
8. Security, Alarm dan CCTV dapat bekerja optimal untuk sarana pengaman,pencegah dan sebagai alat bukti jika terjadi fraud.
9. Dll
Dengan adanya menajemen resiko atau internal control yang baik maka diharapkan kondisi aktivitas dapat tercapai, kondisi yang ingin dicapai adalah
- Kondisi keamanan yang optimal dalam pemeliharaan uang tunai
- Akurasi Pelaksanaan dan pembukuan transaksi agar tidak terjadi salah dan terjadi selisih kas, selisih neraca maupun kesalahan lain yang menimbulkan kerugian bank
- Ketepatan pelaporan kepada pihak asuransi
- Akurasi administrasi dalam hal pemeliharaan catatan yang berkaitan dengan uang tunai misalnya catatan cash count, jurnal printer, catatan uang tunai, kas besar dan laporan kepada managemen berkaitan dengan laporan uang tunai.
- Memberi kenyaman dan keamanan serta menumbuhkan kepercayaan nasabah dalam bertransaksi pada bank.
- Memastikan Peralatan penunjang aktivitas kasir berjalan dengan baik
- Minimalisasi terjadinya kesalahan baik sengaja ataupun tidak sengaja
D. Penyimpangan yang terjadi
Dari hasil pengamanatan langsung pada On Job training pada cabang sudirman saya mendapatkan beberapa hal yang yang menimbulkan resiko
1. Pintu Ruang kasir yang selalu terbuka (adanya resiko pihak yang tidak berkepentingan masuk ke ruang kasir dan melakukan fraud)
2. Adanya Proses Approval tanpa melihat proses transaksi
3. Adanya penulisan tiket yang salah pada kolom tanggal
4. Adanya salah kurs yang menyebabkan terjadinya selisih pada pencatatan system pembukaan dan fisik uang.
5. Adanya Aplikasi Green Screen milik officer yang terbuka tanpa pengawasan sehingga rawan dsalah gunakan oleh pihak yang berniat tidak baik
Dari hasil pengamatan tersebut maka saya menyarankan agar pihak kasir dan Officer agar lebih teliti dan patuh dalam menerapkan Internal Control, untuk menghindarkan terjadinya Fraud atau kecurangan yang terjadi.
Selain keakuratan transaksi tunai dan non tunai yang memang wajib di perhatiakan oleh Kasir atau teller serta penginputan transaksi tersebut, ada satu hal yang harus dilakuan dengan cermat oleh pihak kasir atau Teller, yaitu pengisian data atau informasi nasabah secara akurat, karena data teransaksi kasir akan menjadi bahan untuk membuat LBU, SID, KAP, dan laporan bulanan lainya.
Jika Kasir dan teller salah dan belum memahami tentang cara pengisian transaksi yang benar maka selain ketidak nyamanan oleh nasabah, maka pihak bank akan mengalami kesulitan dalam membuat LBU yang benar, dan kemungkinan adanya resiko jika terjadi pemeriksaan LBU oleh pihak Bank Indonesia.Oleh karena itu system rotasi, pelatihan dan pengawasan yang tepat untuk Aktivitas teller sangat mutlat di perlukan, untuk memastikan transaksi sudah tepat dan akurat.
Download tulisan ini di


0 komentar:
Poskan Komentar